Uzlah; jalan pintas menuju
ALLAH
Wali adalah gelar
yang diberikan kepada orang yang mendapat kedekatan khusus dengan Allah swt. Syekh Muhammad bin Ibrahim dalam karya syarhul
hikam menyatakan bahwa ada empat hal pokok yang bisa mengantarkan seseorang
menjadi wali: Khalwat/Uzlah (menghindari keramaian orang) sumthu (diam), jû` (lapar) dan sahr (tidak tidur malam)[1]. Nabi Muhammad saw sendiri sebelum dilantik menjadi
Nabi, sering menyepi di Gua Hira`. Disamping itu banyak para tokoh sufi yang
mencapai derajat wali lebih cepat dengan ber uzlah dalam proses suluk-nya. Ibnu Athaillah juga lebih menekankan Uzlah sebagai
sarana yang paling efisien untuk menyatukan
pikiran dengan Allah, sehingga
seorang salik dapat all out
dalam beribadah[2].
Secara
etimologi uzlah berarti menghindar
dari sesuatu.
Secara terminologi uzlah adalah
membebaskan diri dari masyarakat dengan cara menghindarkan diri atau memutuskan
hubungan dengan mereka.
Urgensitas uzlah dalam proses suluk dapat dilihat dari manfaat yang diberikan pada setiap orang
yang menjalankannya. Terbebasnya seseorang dalam beberapa
waktu dari berbagai kegiatan duniawi secara tidak langsung memberikan kesempatan
bagi seorang hamba untuk mendedikasikan diri dan seluruh waktunya untuk
beribadah secara totalitas. Disamping itu, uzlah merupakan sarana yang dapat mengantarkan seseorang untuk berpikir mengenai hal-hal yang berguna bagi
dirinya.
seseorang yang mengamalkan uzlah, secara
otomatis mempunyai banyak waktu berhubungan dengan Allah dalam menjalankan berbagai macam ibadah,
merenungkan ayat Allah
tanpa terpengaruh penyakit hati. Karena itulah orang yang berkeinginan
merealisasikan ibadah secara
sempurna mesti memiliki waktu-waktu kosong dan juga menghindari bersosialisasi dengan masyarakat
sekitar.
Imam al-Ghazali dalam kitabnya Siraj ath-Thalibin mengungkapkan beberapa alasan kenapa kita harus memisahkan diri
dari khalayak ramai (uzlah).
1). Bergaul dengan khalayak ramai dapat menyebabkan lalai beribadah. Ini sangat bisa kita rasakan karena kalau kita berkumpul dengan orang
lain, maka kita juga harus melaksanakan hak dan kewajiban yang berkaitan dengan
kita. Sehingga kadang-kadang kita lalai terhadap kewajiban kita terhadap Allah.
2). Berkumpul dengan banyak orang bisa menyebabkan
ibadah yang
dilakukan akan terjangkit virus penyakit hati seperti riya` (ingin dilihat baik), ujub (kagum dengan
dirinya) dan takabbur
(sombong). Sebagaimana kita ketahui bahwa Ikhlas dalam
beribadah adalah syarat diterimanya amal perbuatan. Untuk mencapai ikhlas ini
kita harus memproteksi hati kita agar terhindar dari penyakit hati seperti riya`, ujub, dan takabbur.
Diperlukan usaha yang kontinu agar hati kita aman dari penyakit ini. Diantara
usaha yang sangat baik adalah dengan cara ber uzlah. Karena dengan ber uzlah,
maka segala yang kita kerjakan murni karena Allah, karena memang di samping
kita tidak ada orang lain.
3.
Terbebas dari fitnah, permusuhan antar muslim, dan fanatisme golongan/bangsa.
Seseorang
yang mengasingkan diri dari masyarakat secara tidak langsung berarti ia
membentengi diri untuk tidak terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang mengundang
munculnya fitnah, permusuhan antar sesama manusia, dan fanatisme
golongan/bangsa dimana ia berada. Ketika ia memutuskan untuk berpihak
(bergabung) pada satu kelompok. Namun dalam beruzlah kita harus punya keyakinan bahw bahwa masyarakat sekitar kita yang akan terhindar dari kejahatan yang kita perbuat, bukan beranggapan bahwa dirinya yang akan terhindar dari kejahatan mereka.karena kalau dia masih
merasa bahwa masyarakat yang akan membahayakan dirinya, maka berarti di hatinya
masih terdapat virus Ujub.
Namun diantara faedah uzlah yang paling penting adalah
karena dalam uzlah kita bisa bertafakkur tentang tuhan. Ibnu Athaillah
as-Sakandari dalam kitab Hikam-nya
mengatakan
مَا
نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْئٌ مِثْلَ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مِيدَان فِكْرَةٍ
(Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat
terhadap hati, sebagaimana
uzlah dalam memasuki medan
bertafakur.) Menurut syekh
Muhammad Said Ramadhan al-Buthi tujuan dari uzlah adalah Tafakkur, sedangkan uzlah sendiri pada dasarnya hanyalah sarana.
Bahkan menurut beliau, manfaat uzlah tidak akan sempurna kecuali dengan
menyibukkan hati dengan proses tafakkur[3].
Ummu Darda' pernah ditanya mengenai amal Abu Darda` yang paling utama. Maka dia menjawab "tafakur". Bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa “Berfikir sesaat lebih baik dari beribadah selama 70 tahun”[4]. Hasan
Al Bashri berkata : "Tafakur
itu merupakan cermin yang bisa memperlihatkan kepadamu akan kebaikanmu dari pada keburukanmu.
Dengan cermin itu pula orang bisa melihat kebesaran
dan keagungan Allah swt
bila ia bertafakkur mengenai tanda-tanda
dan semua ciptaan yang
dibuat oleh Allah. Dengan beruzlah
yang disertai tafakkur, kita bisa lebih banyak berintropeksi diri sehingga bisa menghilangkan penyakit hati
yang kita punya.
Uzlah tidak harus selamanya
Mengingat peran penting uzlah maka mungkin diantara kita
ada yang beranggapan bagi kita dianjurkan untuk melakukan uzlah selamanya?
Menurut DR. Said Ramadhan al-Buthi Uzlah tidak untuk dilakukan selamanya. namun uzlah merupakan suatu cara atau bentuk latihan kerohanian yang berfungsi memantapkan hati supaya akal mampu menerima pancaran nur
kalbu. Sehingga jika
seseorang telah selesai dalam proses tafakkurnya dan hatinya sudah terbiasa
bebas dari virus hati, maka dia dianjurkan untuk berkumpul lagi dengan
masyarakat. Wallahu a`lam. AN
Zulmi/IstinabaT
No comments:
Post a Comment