Thursday, February 28, 2013

Uzlah dalam suluk



Uzlah; jalan pintas menuju ALLAH
Wali adalah gelar yang diberikan kepada orang yang mendapat kedekatan khusus dengan Allah swt. Syekh Muhammad bin Ibrahim dalam karya syarhul hikam menyatakan bahwa ada empat hal pokok yang bisa mengantarkan seseorang menjadi wali: Khalwat/Uzlah (menghindari keramaian orang) sumthu (diam), jû` (lapar) dan sahr (tidak tidur malam)[1]. Nabi Muhammad saw sendiri sebelum dilantik menjadi Nabi, sering menyepi di Gua Hira`. Disamping itu banyak para tokoh sufi yang mencapai derajat wali lebih cepat dengan ber uzlah dalam proses suluk-nya. Ibnu Athaillah juga lebih menekankan Uzlah sebagai sarana yang paling efisien untuk menyatukan pikiran dengan Allah, sehingga seorang salik dapat all out dalam beribadah[2].
Kenapa harus Uzlah?
Secara etimologi uzlah berarti menghindar dari sesuatu. Secara terminologi uzlah adalah membebaskan diri dari masyarakat dengan cara menghindarkan diri atau memutuskan hubungan dengan mereka.
Urgensitas uzlah dalam proses suluk dapat dilihat dari manfaat yang diberikan pada setiap orang yang menjalankannya. Terbebasnya seseorang dalam beberapa waktu dari berbagai kegiatan duniawi secara tidak langsung memberikan kesempatan bagi seorang hamba untuk mendedikasikan diri dan seluruh waktunya untuk beribadah secara totalitas. Disamping itu, uzlah merupakan sarana yang dapat mengantarkan seseorang untuk berpikir mengenai hal-hal yang berguna bagi dirinya.
seseorang yang mengamalkan uzlah, secara otomatis mempunyai banyak waktu berhubungan dengan Allah dalam menjalankan berbagai macam ibadah, merenungkan ayat Allah tanpa terpengaruh penyakit hati. Karena itulah orang yang berkeinginan merealisasikan ibadah secara sempurna mesti memiliki waktu-waktu kosong dan juga menghindari bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.
Imam al-Ghazali dalam kitabnya Siraj ath-Thalibin mengungkapkan beberapa alasan kenapa kita harus memisahkan diri dari khalayak ramai (uzlah).
1). Bergaul dengan khalayak ramai dapat menyebabkan lalai beribadah. Ini sangat bisa kita rasakan karena kalau kita berkumpul dengan orang lain, maka kita juga harus melaksanakan hak dan kewajiban yang berkaitan dengan kita. Sehingga kadang-kadang kita lalai terhadap kewajiban kita terhadap Allah.
2). Berkumpul dengan banyak orang bisa menyebabkan ibadah yang dilakukan akan terjangkit virus penyakit hati seperti riya` (ingin dilihat baik), ujub (kagum dengan dirinya) dan takabbur (sombong). Sebagaimana kita ketahui bahwa Ikhlas dalam beribadah adalah syarat diterimanya amal perbuatan. Untuk mencapai ikhlas ini kita harus memproteksi hati kita agar terhindar dari penyakit hati seperti riya`, ujub, dan takabbur. Diperlukan usaha yang kontinu agar hati kita aman dari penyakit ini. Diantara usaha yang sangat baik adalah dengan cara ber uzlah. Karena dengan ber uzlah, maka segala yang kita kerjakan murni karena Allah, karena memang di samping kita tidak ada orang lain.
3. Terbebas dari fitnah, permusuhan antar muslim, dan fanatisme golongan/bangsa.
Seseorang yang mengasingkan diri dari masyarakat secara tidak langsung berarti ia membentengi diri untuk tidak terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang mengundang munculnya fitnah, permusuhan antar sesama manusia, dan fanatisme golongan/bangsa dimana ia berada. Ketika ia memutuskan untuk berpihak (bergabung) pada satu kelompok. Namun dalam beruzlah kita harus punya keyakinan bahw bahwa masyarakat sekitar kita yang akan terhindar dari kejahatan yang  kita perbuat, bukan beranggapan bahwa dirinya yang akan terhindar dari kejahatan mereka.karena kalau dia masih merasa bahwa masyarakat yang akan membahayakan dirinya, maka berarti di hatinya masih terdapat virus Ujub.
Namun diantara faedah uzlah yang paling penting adalah karena dalam uzlah kita bisa bertafakkur tentang tuhan. Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Hikam-nya mengatakan
مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْئٌ مِثْلَ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مِيدَان فِكْرَةٍ
(Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat terhadap hati, sebagaimana uzlah dalam memasuki medan bertafakur.) Menurut syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi tujuan dari uzlah adalah Tafakkur, sedangkan uzlah sendiri pada dasarnya hanyalah sarana. Bahkan menurut beliau, manfaat uzlah tidak akan sempurna kecuali dengan menyibukkan hati dengan proses tafakkur[3]. Ummu Darda' pernah ditanya mengenai amal Abu Darda` yang paling utama. Maka dia menjawab "tafakur". Bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa “Berfikir sesaat lebih baik dari beribadah selama 70 tahun”[4]. Hasan Al Bashri berkata : "Tafakur itu merupakan cermin yang bisa memperlihatkan kepadamu akan kebaikanmu dari pada keburukanmu. Dengan cermin itu pula orang bisa melihat kebesaran dan keagungan Allah swt bila ia bertafakkur mengenai tanda-tanda dan semua ciptaan yang dibuat oleh Allah. Dengan beruzlah yang disertai tafakkur, kita bisa lebih banyak berintropeksi diri sehingga bisa menghilangkan penyakit hati yang kita punya.
Uzlah tidak harus selamanya
Mengingat peran penting uzlah maka mungkin diantara kita ada yang beranggapan bagi kita dianjurkan untuk melakukan uzlah selamanya? Menurut DR. Said Ramadhan al-Buthi Uzlah tidak untuk dilakukan selamanya. namun uzlah merupakan suatu cara atau bentuk latihan kerohanian yang berfungsi memantapkan hati supaya akal mampu menerima pancaran nur kalbu. Sehingga jika seseorang telah selesai dalam proses tafakkurnya dan hatinya sudah terbiasa bebas dari virus hati, maka dia dianjurkan untuk berkumpul lagi dengan masyarakat. Wallahu a`lam. AN Zulmi/IstinabaT



[1] Syekh Muhammad bin Ibrahim, Syarhul Hikam Hal. 16
[2] Ibid hal.17
[3] DR. Said ramadhan al-Buthi, Al-Hikam al-Athaiyyah, syarh wa tahlil, hal. 169
[4] Hujjatul Islam Imam Ghazali, Ihya` Ulum ad-Din, hal.449

No comments:

TERSENYUMLAH maka Seluruh Dunia Akan TERSENYUM kepadamu. jangan MENANGIS, karena Kamu hanya akan MENANGIS sendirian