Ikhlas
وما امروا الا
ليعبدوا الله مخلصين له الدين
Secara etimologi Ikhlas adalah
bersih. Sedangkan secara terminologi ikhlas adalah tidak mengharapkan
keuntungan, baik yang bersifat duniawi atau ukhrawi. Sebagai seorang hamba yang
hanya diciptakan untuk beribadah, maka tugas utama kita selama hidup di dunia
fana ini adalah beribadah sebanyak mungkin. Dan sebagai sarana untuk mencapai
tujuan itu Allah memberikan beragam model ibadah yang bisa digunakan oleh
seorang hamba. Disamping itu Allah juga memberikan kebebasan bagi setiap hamba
untuk mengerjakan ibadah yang mereka senangi.
Namun amal-amal itu bisa tidak
berguna alias sia-sia belaka jika dikerjakan tanpa ada rasa ikhlas di hatinya,
ini dikarena ikhlas adalah syarat sebuah
amal bisa diterima di sisi Allah swt. Maksud ikhlas di sini adalah tidak ada
rasa riya` atau pamer di hatinya ketika mengerjakan suatu ibadah. Dengan artian
ibadah yang dikerjakannya benar-benar terpusatkan pada Allah tanpa melibatkan
hal-hal lain selain-Nya.
Ikhlas adalah
salah satu hal bagian dari komponen penting agar segala amal ibadah yang kita kerjakan
diterima oleh Allah swt. Namun Belajar ikhlas adalah suatu hal yang tentunya
bagi kita tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Bukan hanya itu, amal seseorang tidak
cukup harus terbebas dari rasa pamer saja, melainkan juga disyaratkan tiadanya
perasaan ujub (bangga dengan amal) dikala sebelum maupun setelah
mengerjakannya. Dengan artian, suatu amal sudah dapat dikatakan sempurna jika
sudah disertai ikhlas.
Ibnu Athaillah mengibaratkan amal
perbuatan laiknya sebuah raga (jasad/fisik), sedangkan ruhnya adalah ikhlas.
raga tidak bisa dikatakan hidup jika tidak mempunyai ruh atau nyawa. Begitu
juga dengan amal perbuatan kita. oleh karenanya amal perbuatan manusia akan
sia-sia dan tidak bermakna kalau tidak ikhlas.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah memberikan
perumpamaan “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan
kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.”
Tingkatan ikhlas
Ikhlas terbagi menjadi tiga
tingkatan; pertama ikhlasul ubbad, yakni mengerjakan suatu amal hanya
karena Allah swt semata, tanpa ada rasa riya`, baik jali (nampak) maupun khafi
(samar). Hanya saja pada tingkatan ini, ia masih mengharap balasan dari Allah swt
supaya bisa masuk surga atau terhindar dari neraka. disamping itu ia juga masih
merasa bahwa “dirinyalah” pelaksana ibadah tersebut.
Kedua, ikhlasul muhibbin;
tingkatan ini lebih tinggi dari tingkatan yang pertama. pada tingkatan ini seseorang
melakukan ibadah hanya atas dasar cinta dan takdzim kepada Allah swt, bukan
karena takut terhadap siksa neraka atau menginginkan nimat surga. Namun dalam
tingkatan ini seorang hamba masih mengganggap bahwa “dirinyalah” yang
mengerjakan ibadah tersebut. Masuk dalam kategori ini adalah doa Rabiah
al-Adawiyah “ya Allah, jika aku menyembahmu karena takut pada neraka maka
masukkanlah aku pada neraka”.
Ketiga ikhlasul arifin; tingkatan
ikhlas ini merupakan puncak dari penghambaan seseorang kepada Allah swt. Dalam
tingkatan ini ia benar-benar mengahadiahkan ibadah hanya kepada Allah swt.
Tanpa mengharap imbalan apapun. selain itu ia juga sadar bahwa pelaku hakiki terhadap ibadah yang dikerjakan
adalah Allah swt. Ma`ruf al karkhi seorang tokoh sufi Irak menyatakan bahwa
orang yang beramal karena mengharap pahala mirip dengan seorang pedagang yang
hanya mencari laba; sedang orang yang beramal karena menginginkan surga atau
terhindar dari neraka maka ia diperbudak oleh keinginannya.
Dari berbagai tingkatan ikhlas, ada
satu sifat dasar yang harus ada dalam ikhlas tingkat apapun, yaitu tidak ada
riya` (ingin dilihat baik oleh orang lain). Ini adalah ukuran dasarnya. Maka
tidak heran jika para ulama hadis menyatakan bahwa ikhlas adalah lawan dari
riya`. Sehingga jika seseorang melakukan amal tanpa riya`, maka ia sudah bisa
disebut ikhlas.
Bagaimana agar bisa ikhlas
Sebagai seorang hamba yang tidak lepas dari kehidupan duniawi, maka ikhlas
bagi kita mungkin akan sangat asulit, apalagi jika harus mencapai ikhlasul arifin.
Namun para ulama sufi juga memberikan tips agar kita bisa belajar ikhlas dalam
kehidupan sehari-hari.
1. NIAT YANG IKHLAS. Segala sesuatu dimulai
dari niat. Maka agar ibadah kita ikhlas maka hal pertama yang harus kita
lakukan adalah niat setulus mungkin.
2.
Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal,
baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun
celaan. Ali bin Abi Thalib berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri;
malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah
dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.” Ibarat pohon,
mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi
keseluruhan pohon.
- selalu merasa bahwa dirinya memiliki lebih banyak kekurangan daripada kelebihannya. Ia merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang diperintahkan oleh Allah swt. sehingga ia tidak akan pernah merasa ujub/bangga dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia selalu cemas dan khawatir jika apa-apa yang dilakukannya tidak diterima Allah swt.
- Jangan pernah membedakan amal yang besar dan amal yang kecil. Menurut imam Ghazali; ibadah dua rakaat yang dikerjakan secara ikhlas lebih utama daripada ibadah selama satu tahun.
- Jangan pernah menganggap dirinya ikhlas. Menurut as-susi seseorang yang masih melihat ikhlas dalam ibadahnya maka keikhlasannya itu butuh pada keikhlasan yang lain. Atau bahkan bisa dibilang ujub.
Ikhlas harus tapi bukan berarti kita
tidak beramal karena takut tidak ikhlas atau riya`. Orang itu tidak ada bedanya
dengan orang yang enggan menuntut ilmu karena takut tidak diamalkan. Ini adalah
pola pikir yang terbalik. Tapi teruslah mencari ilmu dan teruslah berupaya
mengamalkan ilmu yang didapat. Teruslah beramal dan teruslah berupaya untuk
ikhlas dalam melakukan amalnya.
No comments:
Post a Comment