Thursday, February 28, 2013

Ikhlas Bro



Ikhlas
وما امروا الا ليعبدوا الله مخلصين له الدين
Secara etimologi Ikhlas adalah bersih. Sedangkan secara terminologi ikhlas adalah tidak mengharapkan keuntungan, baik yang bersifat duniawi atau ukhrawi. Sebagai seorang hamba yang hanya diciptakan untuk beribadah, maka tugas utama kita selama hidup di dunia fana ini adalah beribadah sebanyak mungkin. Dan sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu Allah memberikan beragam model ibadah yang bisa digunakan oleh seorang hamba. Disamping itu Allah juga memberikan kebebasan bagi setiap hamba untuk mengerjakan ibadah yang mereka senangi.
Namun amal-amal itu bisa tidak berguna alias sia-sia belaka jika dikerjakan tanpa ada rasa ikhlas di hatinya, ini dikarena ikhlas adalah syarat  sebuah amal bisa diterima di sisi Allah swt. Maksud ikhlas di sini adalah tidak ada rasa riya` atau pamer di hatinya ketika mengerjakan suatu ibadah. Dengan artian ibadah yang dikerjakannya benar-benar terpusatkan pada Allah tanpa melibatkan hal-hal lain selain-Nya.
Ikhlas adalah salah satu hal bagian dari komponen penting agar segala amal ibadah yang kita kerjakan diterima oleh Allah swt. Namun Belajar ikhlas adalah suatu hal yang tentunya bagi kita tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Bukan hanya itu, amal seseorang tidak cukup harus terbebas dari rasa pamer saja, melainkan juga disyaratkan tiadanya perasaan ujub (bangga dengan amal) dikala sebelum maupun setelah mengerjakannya. Dengan artian, suatu amal sudah dapat dikatakan sempurna jika sudah disertai ikhlas.
Ibnu Athaillah mengibaratkan amal perbuatan laiknya sebuah raga (jasad/fisik), sedangkan ruhnya adalah ikhlas. raga tidak bisa dikatakan hidup jika tidak mempunyai ruh atau nyawa. Begitu juga dengan amal perbuatan kita. oleh karenanya amal perbuatan manusia akan sia-sia dan tidak bermakna kalau tidak ikhlas.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah memberikan perumpamaan “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.”

Tingkatan ikhlas
Ikhlas terbagi menjadi tiga tingkatan; pertama ikhlasul ubbad, yakni mengerjakan suatu amal hanya karena Allah swt semata, tanpa ada rasa riya`, baik jali (nampak) maupun khafi (samar). Hanya saja pada tingkatan ini, ia masih mengharap balasan dari Allah swt supaya bisa masuk surga atau terhindar dari neraka. disamping itu ia juga masih merasa bahwa “dirinyalah” pelaksana ibadah tersebut.
Kedua, ikhlasul muhibbin; tingkatan ini lebih tinggi dari tingkatan yang pertama. pada tingkatan ini seseorang melakukan ibadah hanya atas dasar cinta dan takdzim kepada Allah swt, bukan karena takut terhadap siksa neraka atau menginginkan nimat surga. Namun dalam tingkatan ini seorang hamba masih mengganggap bahwa “dirinyalah” yang mengerjakan ibadah tersebut. Masuk dalam kategori ini adalah doa Rabiah al-Adawiyah “ya Allah, jika aku menyembahmu karena takut pada neraka maka masukkanlah aku pada neraka”.
Ketiga ikhlasul arifin; tingkatan ikhlas ini merupakan puncak dari penghambaan seseorang kepada Allah swt. Dalam tingkatan ini ia benar-benar mengahadiahkan ibadah hanya kepada Allah swt. Tanpa mengharap imbalan apapun. selain itu ia juga sadar bahwa  pelaku hakiki terhadap ibadah yang dikerjakan adalah Allah swt. Ma`ruf al karkhi seorang tokoh sufi Irak menyatakan bahwa orang yang beramal karena mengharap pahala mirip dengan seorang pedagang yang hanya mencari laba; sedang orang yang beramal karena menginginkan surga atau terhindar dari neraka maka ia diperbudak oleh keinginannya.
Dari berbagai tingkatan ikhlas, ada satu sifat dasar yang harus ada dalam ikhlas tingkat apapun, yaitu tidak ada riya` (ingin dilihat baik oleh orang lain). Ini adalah ukuran dasarnya. Maka tidak heran jika para ulama hadis menyatakan bahwa ikhlas adalah lawan dari riya`. Sehingga jika seseorang melakukan amal tanpa riya`, maka ia sudah bisa disebut ikhlas.

Bagaimana agar bisa ikhlas
Sebagai seorang hamba yang tidak lepas dari kehidupan duniawi, maka ikhlas bagi kita mungkin akan sangat asulit, apalagi jika harus mencapai ikhlasul arifin. Namun para ulama sufi juga memberikan tips agar kita bisa belajar ikhlas dalam kehidupan sehari-hari.
1.       NIAT YANG IKHLAS. Segala sesuatu dimulai dari niat. Maka agar ibadah kita ikhlas maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah niat setulus mungkin.
2.      Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.” Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon.
  1. selalu merasa bahwa dirinya memiliki lebih banyak kekurangan daripada kelebihannya. Ia merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang diperintahkan oleh Allah swt. sehingga ia tidak akan pernah merasa ujub/bangga dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia selalu cemas dan khawatir jika apa-apa yang dilakukannya tidak diterima Allah swt.
  2. Jangan pernah membedakan amal yang besar dan amal yang kecil. Menurut imam Ghazali; ibadah dua rakaat yang dikerjakan secara ikhlas lebih utama daripada ibadah selama satu tahun.
  3. Jangan pernah menganggap dirinya ikhlas. Menurut as-susi seseorang yang masih melihat ikhlas dalam ibadahnya maka keikhlasannya itu butuh pada keikhlasan yang lain. Atau bahkan bisa dibilang ujub.
Ikhlas harus tapi bukan berarti kita tidak beramal karena takut tidak ikhlas atau riya`. Orang itu tidak ada bedanya dengan orang yang enggan menuntut ilmu karena takut tidak diamalkan. Ini adalah pola pikir yang terbalik. Tapi teruslah mencari ilmu dan teruslah berupaya mengamalkan ilmu yang didapat. Teruslah beramal dan teruslah berupaya untuk ikhlas dalam melakukan amalnya.

No comments:

TERSENYUMLAH maka Seluruh Dunia Akan TERSENYUM kepadamu. jangan MENANGIS, karena Kamu hanya akan MENANGIS sendirian