Urgensitas Zuhud dalam proses suluk
Keutamaan Zuhud
Zuhud
merupakan mata rantai dari totalitas hati terhadap Allah. Zuhud juga mempunyai
kedudukan yang mulia dalam dunia tasawuf. Di berbagai kitab tasawuf, dalam
menempuh proses suluk, mereka harus mempunyai sifat ini. Bahkan sahabat Abu
bakr RA memilih zuhud sebagai jalan hidup utama beliau. Beliau beranggapan
Dunia bukanlah fasilitas yang yang hendak dinikmati, melainkan godaan yang
harus dihindari.
Karena tidak bisa kita pungkiri bahwa faktor utama yang menyebabkan manusia lupa pada Allah adalah kesukaan mereka terhadap hal-hal duniawi. Rasulullah pernah bersabda “Zuhud terhadap dunia dapat mendatangkan ketenangan hati dan mengistirahatkan jasmani” HR Ahmad bin Hanbal. Disamping punya peran yang vital, zuhud juga memiliki nilai yang tinggi dalam agama dan bisa melipat gandakan pahala. Ibnu Athaillah as-Sakandari mengatakan bahwa pekerjaan atau amal perbuatan yang muncul dari orang yang zahid itu tidaklah sedikit nilainya. Dengan artian walaupun secara kasat mata perbuatan mereka sedikit, namun oleh Allah amal ibadah tersebut dianggap besar dan agung. Ini dikarenakan amal tersebut muncul dari seseorang yang di hatinya tidak bergantung dengan harta. Bahkan Ibnu Mas`ud pernah meriwayatkan bahwa “dua rakaat yang dilakukan oleh orang alim yang zuhud lebih utama dari ibadahnya orang yang mujtahid yang ahli ibadah selamanya”[1].
Karena tidak bisa kita pungkiri bahwa faktor utama yang menyebabkan manusia lupa pada Allah adalah kesukaan mereka terhadap hal-hal duniawi. Rasulullah pernah bersabda “Zuhud terhadap dunia dapat mendatangkan ketenangan hati dan mengistirahatkan jasmani” HR Ahmad bin Hanbal. Disamping punya peran yang vital, zuhud juga memiliki nilai yang tinggi dalam agama dan bisa melipat gandakan pahala. Ibnu Athaillah as-Sakandari mengatakan bahwa pekerjaan atau amal perbuatan yang muncul dari orang yang zahid itu tidaklah sedikit nilainya. Dengan artian walaupun secara kasat mata perbuatan mereka sedikit, namun oleh Allah amal ibadah tersebut dianggap besar dan agung. Ini dikarenakan amal tersebut muncul dari seseorang yang di hatinya tidak bergantung dengan harta. Bahkan Ibnu Mas`ud pernah meriwayatkan bahwa “dua rakaat yang dilakukan oleh orang alim yang zuhud lebih utama dari ibadahnya orang yang mujtahid yang ahli ibadah selamanya”[1].
Pengertian Zuhud
Mengenai
arti zuhud sendiri, sangat banyak ulama yang mendefinisikan dengan definisi
yang beragam[2].
Abu Sulaiman ad-Daroni mendefinisikan, zuhud adalah : meninggalkan
setiap sesuatu yang menyebabkan kita lalai terhadap Allah. Menurut Syaikh Sa`id
Romdhon al-Buthi zuhud adalah berpaling dari setiap sesuatu selain Allah[3].
Namun dalam kitab monumental Ihya` Ulumiddin, karya Imam al-Ghazali dinyatakan,
diantara beberapa definisi zuhud tersebut bisa disimpulkan bahwa, zuhud
adalah membenci sesuatu yang merupakan kenikmatan nafsu[4].
Sehingga pengertian zuhud bukanlah orang yang tidak punya harta, melainkan hati
dan pikirannya tidak bergantung dengan harta sama sekali, walaupun kelihatannya
dia adalah orang yang bergelimang harta. Seperti yang telah diteladankan oleh
Sayyidina Utsman bin Affan Ra.
Implementasi zuhud dalam kehidupan
sehari-hari.
Sebagai makhluk yang hidup di dunia,
maka kita tidak bisa lepas dengan urusan dunia. Namun, yang jadi pertanyaan
adalah apakah kita masih bisa mempraktekkan zuhud dalam kehidupan sehari-hari? Imam ghazali memberikan beberapa
tips agar kita bisa zuhud dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menegaskan bahwa
dalam kebutuhan hidup sehari-hari ada batasan-batasan tertentu yang harus
diikuti oleh seseorang sehingga dia bisa mempunyai sifat zuhud. diantaranya:
1. Makanan: dalam
hal konsumsi sehari-hari, kita dianjurkan untuk memakan sesuatu sekedar untuk
menolak dahaga dan lapar serta sekedar menghindari sakit. Sehingga dengan
begini kita juga bisa menghindari sifat rakus, yang acap kali menyebabkan kita
belomba-lomba dalam mengumpulkan harta.
2. Pakaian: dalam
cara berpakaian kita disarankan mencari dan menggunakan pakaian sekadar menolak
dingin dan panas. Tidak lebih. Apalagi sampai berpakaian bagus yang tujuannya
hanya mengikuti trend masa kini.
3. Tempat tinggal:
adapun rumah yang bisa kita tempati adalah sekedar untuk tempat berteduh dan
tanpa ada embel-embel hiasan di dalamnya.
Disamping mengikuti aturan-aturan ini,
juga diharuskan uang yang digunakan untuk membeli atau menyewa segala kebutuhan
hidup kita merupakan hasil dari barang halal. Bagaimana mungkin bisa dikatakan
zuhud orang yang hidup sederhana tapi diperoleh dari barang haram.
Tingkatan zuhud
Dalam literatur tasawuf, zuhud
mempunyai tiga tingkatan:
1. Tingkatan
Pemula. Yaitu orang yang bersikap zuhud dalam urusan dunia, tapi dia masih
punya keinginan untuk memiliki harta yang melimpah dan hatinya masih terus
bergantung pada dunia. Golongan pertama ini menurut Imam Ghazali dinamakan MUTAZAHHID[5].
2. Tingkatan
Menengah. Yaitu orang yang meningalkan kesenangan duniawi atas dasar ketaatan,
tapi didasarkan keinginan sesuatu yang lebih baik yang bersifat akhirat.
3. Tingkatan
tinggi. Yaitu orang yang bersikap zuhud karena murni taat terhadap Allah.
Adapun penyebab kita bisa mencapai tingkatan ini adalah sifat pengetahuan kita
yang sempurna terhadap Allah.
Dengan
mengenal tingkatan zuhud, kita diharapkan mampu untuk mengikuti ajaran ini
sebisa mungkin. Jika kita tidak bisa mengikuti tingkatan yang paling tinggi
maka mungkin kita bisa mengikuti tingkatan menengah atau bahkan pemula. Jika
tidak bisa mengikuti semua aturan zuhud mungkin kita bisa mengusahakan untuk
mengikuti sebagiannya saja. Sebagaimana dalam kaidah “jika tidak bisa diikuti
semua, maka jangan tinggalkan semua”. Wallahu A`lam.
1 comment:
Tks pencerahannya. Sungguh bisa u menambah pengetahuan agama sy. Syukron
Post a Comment