Thursday, February 28, 2013

Hidup Zuhud



Urgensitas Zuhud dalam proses suluk
Keutamaan Zuhud
Zuhud merupakan mata rantai dari totalitas hati terhadap Allah. Zuhud juga mempunyai kedudukan yang mulia dalam dunia tasawuf. Di berbagai kitab tasawuf, dalam menempuh proses suluk, mereka harus mempunyai sifat ini. Bahkan sahabat Abu bakr RA memilih zuhud sebagai jalan hidup utama beliau. Beliau beranggapan Dunia bukanlah fasilitas yang yang hendak dinikmati, melainkan godaan yang harus dihindari.
Karena tidak bisa kita pungkiri bahwa faktor utama yang menyebabkan manusia lupa pada Allah adalah kesukaan mereka terhadap hal-hal duniawi. Rasulullah pernah bersabda “Zuhud terhadap dunia dapat mendatangkan ketenangan hati dan mengistirahatkan jasmani” HR Ahmad bin Hanbal. Disamping punya peran yang vital, zuhud juga memiliki nilai yang tinggi dalam agama dan bisa melipat gandakan pahala. Ibnu Athaillah as-Sakandari mengatakan bahwa pekerjaan atau amal perbuatan yang muncul dari orang yang zahid itu tidaklah sedikit nilainya. Dengan artian walaupun secara kasat mata perbuatan mereka sedikit, namun oleh Allah amal ibadah tersebut dianggap besar dan agung. Ini dikarenakan amal tersebut muncul dari seseorang yang di hatinya tidak bergantung dengan harta. Bahkan Ibnu Mas`ud pernah meriwayatkan bahwa “dua rakaat yang dilakukan oleh orang alim yang zuhud lebih utama dari ibadahnya orang yang mujtahid yang ahli ibadah selamanya”[1].
Pengertian Zuhud
Mengenai arti zuhud sendiri, sangat banyak ulama yang mendefinisikan dengan definisi yang beragam[2]. Abu Sulaiman ad-Daroni mendefinisikan, zuhud adalah : meninggalkan setiap sesuatu yang menyebabkan kita lalai terhadap Allah. Menurut Syaikh Sa`id Romdhon al-Buthi zuhud adalah berpaling dari setiap sesuatu selain Allah[3]. Namun dalam kitab monumental Ihya` Ulumiddin, karya Imam al-Ghazali dinyatakan, diantara beberapa definisi zuhud tersebut bisa disimpulkan bahwa, zuhud adalah membenci sesuatu yang merupakan kenikmatan nafsu[4]. Sehingga pengertian zuhud bukanlah orang yang tidak punya harta, melainkan hati dan pikirannya tidak bergantung dengan harta sama sekali, walaupun kelihatannya dia adalah orang yang bergelimang harta. Seperti yang telah diteladankan oleh Sayyidina Utsman bin Affan Ra.
Implementasi zuhud dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai makhluk yang hidup di dunia, maka kita tidak bisa lepas dengan urusan dunia. Namun, yang jadi pertanyaan adalah apakah kita masih bisa mempraktekkan zuhud dalam kehidupan  sehari-hari? Imam ghazali memberikan beberapa tips agar kita bisa zuhud dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menegaskan bahwa dalam kebutuhan hidup sehari-hari ada batasan-batasan tertentu yang harus diikuti oleh seseorang sehingga dia bisa mempunyai sifat zuhud. diantaranya:
1.       Makanan: dalam hal konsumsi sehari-hari, kita dianjurkan untuk memakan sesuatu sekedar untuk menolak dahaga dan lapar serta sekedar menghindari sakit. Sehingga dengan begini kita juga bisa menghindari sifat rakus, yang acap kali menyebabkan kita belomba-lomba dalam mengumpulkan harta.
2.      Pakaian: dalam cara berpakaian kita disarankan mencari dan menggunakan pakaian sekadar menolak dingin dan panas. Tidak lebih. Apalagi sampai berpakaian bagus yang tujuannya hanya mengikuti trend masa kini.
3.       Tempat tinggal: adapun rumah yang bisa kita tempati adalah sekedar untuk tempat berteduh dan tanpa ada embel-embel hiasan di dalamnya.
Disamping mengikuti aturan-aturan ini, juga diharuskan uang yang digunakan untuk membeli atau menyewa segala kebutuhan hidup kita merupakan hasil dari barang halal. Bagaimana mungkin bisa dikatakan zuhud orang yang hidup sederhana tapi diperoleh dari barang haram.

Tingkatan zuhud
Dalam literatur tasawuf, zuhud mempunyai tiga tingkatan:
1.       Tingkatan Pemula. Yaitu orang yang bersikap zuhud dalam urusan dunia, tapi dia masih punya keinginan untuk memiliki harta yang melimpah dan hatinya masih terus bergantung pada dunia. Golongan pertama ini menurut Imam Ghazali dinamakan MUTAZAHHID[5].
2.      Tingkatan Menengah. Yaitu orang yang meningalkan kesenangan duniawi atas dasar ketaatan, tapi didasarkan keinginan sesuatu yang lebih baik yang bersifat akhirat.
3.       Tingkatan tinggi. Yaitu orang yang bersikap zuhud karena murni taat terhadap Allah. Adapun penyebab kita bisa mencapai tingkatan ini adalah sifat pengetahuan kita yang sempurna terhadap Allah.
Dengan mengenal tingkatan zuhud, kita diharapkan mampu untuk mengikuti ajaran ini sebisa mungkin. Jika kita tidak bisa mengikuti tingkatan yang paling tinggi maka mungkin kita bisa mengikuti tingkatan menengah atau bahkan pemula. Jika tidak bisa mengikuti semua aturan zuhud mungkin kita bisa mengusahakan untuk mengikuti sebagiannya saja. Sebagaimana dalam kaidah “jika tidak bisa diikuti semua, maka jangan tinggalkan semua”. Wallahu A`lam.


[1] Syekh Muhammad bin Ibrahim, Syarhul Hikam hlm 39
[2] Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin 4/255
[3] Syekh Said Ramdhan al-Buthi, al-Hikam al-Athaiyyah 2/173
[4] Opcit
[5] Ibid

1 comment:

Unknown said...

Tks pencerahannya. Sungguh bisa u menambah pengetahuan agama sy. Syukron

TERSENYUMLAH maka Seluruh Dunia Akan TERSENYUM kepadamu. jangan MENANGIS, karena Kamu hanya akan MENANGIS sendirian