Thursday, February 28, 2013

Ibrahim Al-Adham



Abu Ishak Ibrahim bin Adham bin Mansur bin Yazid bin Jabir (112- 165 H)

Ibrahim bin Adham adalah salah satu sufi yang memiliki perjalanan spritual yang unik dan berliku. Sebelum diangkat menjadi wali, ia adalah seorang pemuda bangsawan yang hidup dalam kemewahan. hari-harinya ia isi dengan berfoya-foya dalam gemerlap dunia. arus kehidupannya mulai berubah sejak ia mengalami kisah-kisah misterius yang mengakibatkan hatinya gundah dan akhirnya memulai proses suluknya. Diantaranya adalah bahwa suatu ketika ibrahim mengumpulkan para menterinya untuk memulai persidangan, namun tiba-tiba seorang lelaki berwajah menakutkan masuk ke dalam ruang tamu itu. Dengan tenang lelaki tersebut melangkah ke depan singgasana.
“Apakah yang engkau inginkan?” tanya Ibrahim.
“Aku baru saja sampai ke tempat persinggahan ini.” jawab lelaki itu.
“Ini bukan tempat persinggahan para kafilah. Ini adalah istanaku. Engkau sudah gila!” Ibrahim menghardiknya.
“Siapakah pemilik istana ini sebelum engkau?” tanya lelaki itu.
“Ayahku!” jawab Ibrahim.
“Dan sebelum ayahmu?”
“Datukku!”
“Ke manakah mereka sekarang ini?” tanya lelaki itu.
“Mereka telah mati,” jawab Ibrahim.
“Jika demikian, bukankah ini tempat persinggahan yang dimasuki oleh seseorang dan ditinggalkan oleh yang lainnya?”
Kemudian lelaki itu hilang. Sesungguhnya lelaki yang menemuinya adalah Nabi Khidir as.
Pernah juga ketika di suatu malam ada seorang yang menaiki atap rumahnya. lalu ia hampiri orang itu, "sedang apa kau di sini?" "mencari onta" jawab orang itu. "mencari onta kok di atap rumah?" sergah ibrahim. "begitu juga engkau, mencari tuhan di rumah yang penuh dengan kemewahan!" balas orang itu. Nah teguran inilah yang paling membekas dalam hatinya dan membuat dia sadar, lantas untuk mencari ketenangan dan memuaskan hati ia meninggalkan segala kemewahan yang ia miliki dan bergabung bersama para sufi.
Ibrahim bin Adham pernah belajar kepada imam Abu Hanifah dan sejumlah tokoh sufi di masanya, seperti Abu Yazid al-Busthomi. Menurut Junaid, Ibrahim memiliki kunci dari ilmu tasawuf yang menyebabkan ia cepat wushul dalam proses suluknya.
Diantara pesan Ibrahim bin Adham adalah anjuran beliau agar menjadikan tuhan sebagai sahabat dan meninggalkan manusia. Maksud Bersahabat dengan tuhan adalah ketulusan kita dalam memenuhi semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau juga menganjurkan kita agar menekan hawa nafsu. Karena menurut beliau cinta murni kepada Allah hanya bisa timbul dari hati yang membenci hawa nafsu.
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa terkadang memang Allah tidak langsung menjadikan seseorang sebagai kekasihnya. Bahkan Allah memberikan proses yang berliku, terjal dan tajam kepada hamba yang dia kehendaki. Pertama-tama Allah membukakan jalan dosa dan kesalahan pada hamba yang ia kehendaki selanjutnya hamba tersebut diberikan jalan hidayah, sehingga nantinya bisa menjadi Ibadillah ash-sholihin. AN Zulmi/IstinbaT.

No comments:

TERSENYUMLAH maka Seluruh Dunia Akan TERSENYUM kepadamu. jangan MENANGIS, karena Kamu hanya akan MENANGIS sendirian