Abu Ishak
Ibrahim bin Adham bin Mansur
bin Yazid
bin Jabir
(112- 165 H)
Ibrahim bin Adham adalah salah satu sufi yang memiliki
perjalanan spritual yang unik dan berliku. Sebelum diangkat menjadi wali, ia
adalah seorang pemuda bangsawan yang hidup dalam kemewahan. hari-harinya ia isi
dengan berfoya-foya dalam gemerlap dunia. arus kehidupannya mulai berubah sejak
ia mengalami kisah-kisah misterius yang mengakibatkan hatinya gundah dan
akhirnya memulai proses suluknya. Diantaranya adalah bahwa suatu ketika ibrahim
mengumpulkan para menterinya untuk memulai persidangan, namun tiba-tiba seorang
lelaki berwajah menakutkan masuk ke dalam ruang tamu itu. Dengan tenang lelaki
tersebut melangkah ke depan singgasana.
“Apakah yang engkau inginkan?” tanya
Ibrahim.
“Aku baru saja sampai ke tempat persinggahan
ini.” jawab lelaki itu.
“Ini bukan tempat persinggahan para kafilah.
Ini adalah istanaku. Engkau sudah gila!” Ibrahim menghardiknya.
“Siapakah pemilik istana ini sebelum
engkau?” tanya lelaki itu.
“Ayahku!” jawab Ibrahim.
“Dan sebelum ayahmu?”
“Datukku!”
“Ke manakah mereka sekarang ini?” tanya
lelaki itu.
“Mereka telah mati,” jawab Ibrahim.
“Jika demikian, bukankah ini tempat
persinggahan yang dimasuki oleh seseorang dan ditinggalkan oleh yang lainnya?”
Kemudian lelaki itu hilang.
Sesungguhnya lelaki yang menemuinya adalah Nabi Khidir as.
Pernah juga ketika di suatu malam ada seorang
yang menaiki atap rumahnya. lalu ia hampiri orang itu, "sedang apa kau di
sini?" "mencari onta" jawab orang itu. "mencari onta kok di
atap rumah?" sergah ibrahim. "begitu juga engkau, mencari tuhan di
rumah yang penuh dengan kemewahan!" balas orang itu. Nah teguran inilah
yang paling membekas dalam hatinya dan membuat dia sadar, lantas untuk mencari
ketenangan dan memuaskan hati ia meninggalkan segala kemewahan yang ia miliki
dan bergabung bersama para sufi.
Ibrahim bin Adham pernah belajar kepada imam Abu Hanifah dan
sejumlah tokoh sufi di masanya, seperti Abu Yazid al-Busthomi. Menurut Junaid, Ibrahim
memiliki kunci dari ilmu tasawuf yang menyebabkan ia cepat wushul dalam proses suluknya.
Diantara
pesan Ibrahim bin Adham adalah anjuran beliau agar menjadikan tuhan sebagai sahabat
dan meninggalkan manusia. Maksud Bersahabat dengan tuhan adalah ketulusan kita dalam
memenuhi semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau juga
menganjurkan kita agar menekan hawa nafsu. Karena menurut beliau cinta murni
kepada Allah hanya bisa timbul dari hati yang membenci hawa nafsu.
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran
bahwa terkadang memang Allah tidak langsung menjadikan seseorang sebagai
kekasihnya. Bahkan Allah memberikan proses yang berliku, terjal dan tajam
kepada hamba yang dia kehendaki. Pertama-tama Allah membukakan jalan dosa dan kesalahan pada hamba yang ia kehendaki
selanjutnya hamba tersebut diberikan jalan hidayah, sehingga nantinya bisa
menjadi Ibadillah ash-sholihin. AN Zulmi/IstinbaT.
No comments:
Post a Comment