Wednesday, February 27, 2013

Taubat sebagai proses suluk



Arti taubat
Bagi seorang hamba yang ingin sampai ke medan hakikat bersama allah I maka jalan pertama yang harus dia lalui adalah taubat. Jika diibaratkan sebuah pondasi, taubat menduduki posisi integral dalam melaksanakan aktivitas ubudiah dan proses suluk.
Taubat adalah pekerjaaan hati dalam usaha untuk menyucikan hati. Bertaubat sama artinya dengan menjauhi segala perbuatan yang tercela dan melakukan hal-hal yang terpuji dalam pandangan agama.
Kenapa harus taubat ?
Ada beberapa alasan yang menyebabkan kita harus taubat. Diantaranya;
1.       Sadar bahwa taubat adalah sebuah kewajiban. Kewajiban taubat ini berdasarkan al-Quran dan Hadis.
Dalam al-Qur`an Allah I berfirman yang artinya: “Dan bertaubatlah kalian semua pada Allah I, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nûr [26]:31). “sesungguhnya Allah I senang pada orang yang bertaubat.” (QS. Al-Baqarah [02]:222). Rasulullah r juga bersabda bahwa beliau bertaubat pada Allah I setiap harinya sebanyak seratus kali. Sedangkan kita tidak mungkin terlepas dari dosa. Seandainya kita bisa bebas dari dosa anggota tubuh, maka mungkin kita sulit untuk menghindar dari dosanya hati.
2.      Agar kita mendapat taufiq dari Allah I sehingga kita bisa senantiasa taat dalam perilaku kita sehari-hari. Ini dikarenakan taubat adalah kunci dari segala ketaatan.
3.       Agar ibadah-ibadah kita bisa diterima. Allah I tidak akan menerima pahala pekerjaan sunah seseorang sebelum dia mengerjakan kewajibannya. Sedangkan kebanyakan dari ibadah-ibadah kita sehari-hari adalah sunat. Alangkah ruginya kita jika allah I  tidak menerima ibadah sunah kita, jika kita tidak bertaubat.
4.      Taubat bisa Menghapus kejelekan atau dosa yang telah kita kerjakan. Sehingga dengan bertaubat kita bisa menjadai seperti orang yang tidak punya dosa sama sekali. Bahkan seandainya taubat tersebut kita sertai pekerjaan baik, maka kita bisa memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah I.
3 motif agar bertaubat
Ada 3 hal pokok yang bisa menjadi pendorong kuat bagi kita untuk melakukan taubat.
1.       mengingat jeleknya dosa yang telah kita kerjakan, dan menyadari bahwa dosa itu bisa menjadi penghalang antara kita dan kekasih kita (Allah I).
2.      Mengingat siksa yang akan Allah I limpahkan pada kita sebagai balasan dari perbuatan dosa yang telah kita perbuat.
3.       Menyadari bahwa siksa itu sangat pedih dan tidak akan mampu kita hadapi.
Syarat taubat
Dosa atau kesalahan yang kita perbuat secara umum bisa dibedakan menjadi dua macam. Pertama, dosa vertikal antara hamba dan tuhannya. Kedua, dosa  horizontal antar sesama. Apabila dosa yang dilakukan bersifat vertikal, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi:
 1. Meninggalkan dan menjauhi dosa yang telah dikerjakan semata-mata karena memulyakan Allah I, bukan karena maksud yang lain, seperti tujuan duniawi atau malu pada manusia.
2. memiliki rasa penyesalan karena telah berbuat dosa.
3. berkomitmen untuk meninggalkan dosa yang yang telah kita kerjakan atau dosa yang sejenis. Yang dimaksud komitmen (al-`azmu) di sini adalah tidak bermaksud dengan sengaja untuk kembali melakukan dosa yang telah diperbuat. banyak manusia yang enggan melakukan taubat karena khawatir taubatnya hanya di bibir saja, ia takut nanti akan mengulangi dosanya lagi. Kekhawatiran ini adalah tipu daya setan. Mereka membisikkan di telinga manusia, “sudahlah, kamu tidak usah bertaubat, karena kamu pasti akan melakukan kesalahan lagi”. Bisikan seperti itu tidak usah dihiraukan. Karena kewajiban kita adalah berkomitmen untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Apabila dosa yang kita kerjakan bersifat horizontal, maka ada satu syarat tambahan selain tiga syarat di atas, yaitu mengembalikan atau memohon kerelaan atas hak-hak orang yang pernah dia aniaya.
Apabila seorang hamba telah melaksanakan syarat-syarat nya taubat, maka yakinlah bahwa taubatnya pasti akan diterima oleh Allah I. Bahkan oleh Imam al-Ghozali dalam Ihyâ` Ulûmid-Dîn, taubat yang sudah memenuhi syarat-syaratnya digambarkan seperti Air yang “pasti” menyegarkan.
Yang harus dilakukan setelah taubat
Setelah bertaubat, maka seyogyanya bagi seorang sâlik membuang semua sifat-sifat tercela yang telah dia miliki dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, seperti sabar, zuhud, syukur dan qana`ah.  
apabila taubat yang telah dikerjakan kamu rusak dengan melakukan dosa lagi, maka kamu harus cepat-cepat kembali melakukan taubat. Walaupun dosa itu kamu ulangi sampai tujuh puluh kali dalam sehari. Dosa besar dan kecil tidak ada bedanya jika dikerjakan terus menerus tanpa disertai taubat. Sebagaimana dosa besar, dosa kecil yang dibiarkan akan berakibat fatal pada pelakunya, hatinya akan gelap, sulit menerima kebenaran, dan seterusnya. Oleh karena itu taubat harus dilakukan terus menerus setiap saat.
orang bijak pernah berkata “orang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan dosa, tapi orang baik adalah orang pernah melakukan kejelekan dan bertaubat, sehingga dia tidak mengulangi kesalahan yang pernah dia perbuat”. Wallahu a`lam.


No comments:

TERSENYUMLAH maka Seluruh Dunia Akan TERSENYUM kepadamu. jangan MENANGIS, karena Kamu hanya akan MENANGIS sendirian