Arti taubat
Bagi
seorang hamba yang ingin sampai ke medan hakikat bersama allah I maka jalan pertama
yang harus dia lalui adalah taubat. Jika diibaratkan sebuah pondasi, taubat
menduduki posisi integral dalam melaksanakan aktivitas ubudiah dan
proses suluk.
Taubat
adalah pekerjaaan hati dalam usaha untuk menyucikan hati. Bertaubat sama
artinya dengan menjauhi segala perbuatan yang tercela dan melakukan hal-hal
yang terpuji dalam pandangan agama.
Kenapa harus taubat ?
Ada
beberapa alasan yang menyebabkan kita harus taubat. Diantaranya;
Dalam
al-Qur`an Allah I
berfirman yang artinya: “Dan bertaubatlah kalian semua pada Allah I,
agar kalian beruntung.” (QS. An-Nûr [26]:31). “sesungguhnya
Allah I senang
pada orang yang bertaubat.” (QS. Al-Baqarah [02]:222).
Rasulullah r
juga bersabda bahwa beliau bertaubat pada Allah I
setiap harinya sebanyak seratus kali. Sedangkan kita tidak mungkin terlepas
dari dosa. Seandainya kita bisa bebas dari dosa anggota tubuh, maka mungkin
kita sulit untuk menghindar dari dosanya hati.
2.
Agar kita mendapat taufiq
dari Allah I
sehingga kita bisa senantiasa taat dalam perilaku kita sehari-hari. Ini
dikarenakan taubat adalah kunci dari segala ketaatan.
3.
Agar ibadah-ibadah kita
bisa diterima. Allah I
tidak akan menerima pahala pekerjaan sunah seseorang sebelum dia mengerjakan
kewajibannya. Sedangkan kebanyakan dari ibadah-ibadah kita sehari-hari adalah
sunat. Alangkah ruginya kita jika allah I tidak menerima ibadah sunah kita, jika kita
tidak bertaubat.
4.
Taubat bisa
Menghapus kejelekan atau dosa yang telah kita kerjakan. Sehingga dengan
bertaubat kita bisa menjadai seperti orang yang tidak punya dosa sama sekali.
Bahkan seandainya taubat tersebut kita sertai pekerjaan baik, maka kita bisa
memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah I.
3 motif agar bertaubat
Ada
3 hal pokok yang bisa menjadi pendorong kuat bagi kita untuk melakukan taubat.
1.
mengingat jeleknya
dosa yang telah kita kerjakan, dan menyadari bahwa dosa itu bisa menjadi
penghalang antara kita dan kekasih kita (Allah I).
2.
Mengingat siksa yang
akan Allah I
limpahkan pada kita sebagai balasan dari perbuatan dosa yang telah kita perbuat.
3.
Menyadari bahwa
siksa itu sangat pedih dan tidak akan mampu kita hadapi.
Syarat taubat
Dosa
atau kesalahan yang kita perbuat secara umum bisa dibedakan menjadi dua macam.
Pertama, dosa vertikal antara hamba dan tuhannya. Kedua, dosa horizontal antar sesama. Apabila dosa yang
dilakukan bersifat vertikal, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi:
1. Meninggalkan dan menjauhi dosa yang telah dikerjakan
semata-mata karena memulyakan Allah I,
bukan karena maksud yang lain, seperti tujuan duniawi atau malu pada manusia.
2. memiliki
rasa penyesalan karena telah berbuat dosa.
3. berkomitmen
untuk meninggalkan dosa yang yang telah kita kerjakan atau dosa yang sejenis. Yang
dimaksud komitmen (al-`azmu) di sini adalah tidak bermaksud dengan
sengaja untuk kembali melakukan dosa yang telah diperbuat. banyak manusia yang enggan
melakukan taubat karena khawatir taubatnya hanya di bibir saja, ia takut nanti
akan mengulangi dosanya lagi. Kekhawatiran ini adalah tipu daya setan. Mereka
membisikkan di telinga manusia, “sudahlah, kamu tidak usah bertaubat, karena
kamu pasti akan melakukan kesalahan lagi”. Bisikan seperti itu tidak usah
dihiraukan. Karena kewajiban kita adalah berkomitmen untuk tidak melakukan kesalahan
lagi. Apabila dosa yang kita kerjakan bersifat horizontal, maka ada satu syarat
tambahan selain tiga syarat di atas, yaitu mengembalikan atau memohon kerelaan
atas hak-hak orang yang pernah dia aniaya.
Apabila
seorang hamba telah melaksanakan syarat-syarat nya taubat, maka yakinlah bahwa
taubatnya pasti akan diterima oleh Allah I.
Bahkan oleh Imam al-Ghozali dalam Ihyâ` Ulûmid-Dîn, taubat yang sudah
memenuhi syarat-syaratnya digambarkan seperti Air yang “pasti” menyegarkan.
Yang harus dilakukan setelah taubat
Setelah
bertaubat, maka seyogyanya bagi seorang sâlik membuang semua sifat-sifat
tercela yang telah dia miliki dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji,
seperti sabar, zuhud, syukur dan qana`ah.
apabila
taubat yang telah dikerjakan kamu rusak dengan melakukan dosa lagi, maka kamu
harus cepat-cepat kembali melakukan taubat. Walaupun dosa itu kamu ulangi
sampai tujuh puluh kali dalam sehari. Dosa besar dan kecil tidak ada bedanya
jika dikerjakan terus menerus tanpa disertai taubat. Sebagaimana dosa besar,
dosa kecil yang dibiarkan akan berakibat fatal pada pelakunya, hatinya akan
gelap, sulit menerima kebenaran, dan seterusnya. Oleh karena itu taubat harus
dilakukan terus menerus setiap saat.
orang
bijak pernah berkata “orang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan
dosa, tapi orang baik adalah orang pernah melakukan kejelekan dan bertaubat,
sehingga dia tidak mengulangi kesalahan yang pernah dia perbuat”. Wallahu
a`lam.
No comments:
Post a Comment