Sunday, December 22, 2013

Indonesia; “Tanah Surga” yang bagaikan “Neraka”



Essay For Introduction Economic
Indonesia;
“Tanah Surga” yang bagaikan “Neraka”
By
Nama : NIZAR ZULMI
Nim : 1317.297
Kelas : M
Dosen : Ms. Stevani Adinda

Prolog
Saya agak terkejut ketika membaca sebuah statemen di Tempo Interaktif yang berbunyi “Setiap tahun, 2 juta orang di Indonesia mencari pekerjaan. Berarti, setelah krisis moneter 1998, ada 30 juta pengangguran. Presiden Boston Institute for Developing Economies Gustav F. Papanek menghitung, hanya 5,5 juta yang telah mendapat pekerjaan tetap. Sementara 3,5 juta mencari pekerjaan di luar negeri, sebagian besar sebagai pembantu rumah tangga, dan sisanya tetap menganggur”. Bahkan Data ILO ( International Labour Organization) disebutkan penganggur dengan usia dari 15 – 24 tahun mencapai 74,8 juta jiwa untuk Indonesia sendiri. 46,6 persen atau 55,7 juta angkatan kerja adalah dari kalangan yang hanya berpendidikan sekolah dasar (Kompas, 25/1).Sungguh miris. Bagaimana tidak, di beberapa kota besar, banyak orang yang masih hidup dibawah kolong jembatan, jumlah pengemis dan pengamen yang makin beragam, apalagi jika memasuki bulan ramadlan. Banyak dari mereka yang hidup tidak layak, bahkan hidup terasa bagai di “neraka”, menderita dari lahir sampai mati. Sehingga kemudian beberapa pertanyaan muncul “apa yang menyebabkan Indonesia terjangkit penyakit kemiskinan? Bukankah indonesia adalah negara dengan sumber daya alam yang melimpah? Bahkan ada yang bilang kalau Indonesia adalah “Tanah Surga”, Katanya...?
Kenapa Indonesia Terpuruk

Berbicara tentang terpuruknya perekonomian Indonesia memang banyak faktor yang mempengaruhinya. Namun menurut para ahli ekonom Indonesia –tanpa melihat peran pemerintah didalamnya- peyebab utama dari keterpurukan perekonomian di Indonesia adalah pengangguran. Ini dikarenakan pengangguran berbanding lurus dengan kemisikinan. Semakin banyak jumlah pengangguran, otomatis semakin banyak pula jumlah kemiskinan di Indonesia. Jika kita lihat data yang bersumber dari BPS (Badat Pusat Statistik) dan Kementerian Kesejahteraan Rakyat maka diperoleh data dimana lebih dari 10 persen penduduk Indonesia atau 29,89 juta jiwa masih berada di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan tersebar dari desa sampai ibu kota. Mengatasi masalah mengentaskan kemiskinan menjadi tanggungan pemerintah dan kita bersama. Di Indonesia Semakin tahun jumlah pengangguran semakin meningkat, sehingga jumlah kemisikinan pun ikut meningkat.
Faktor Penyebab dan solusi
Banyak faktor yang mempengaruhi terhadap meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia; setidaknya, faktor-faktor tersebut bisa kita klasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu (1) menganggur karena faktor fisik, seperti sakit, cacat, lumpuh dan semacamnya; (2) menganggur karena faktor non fisik, seperti sebab malas, rendahnya pendidikan atau tidak memiliki keterampilan; (3) menganggur karena sedikitnya lapangan pekerjaan yang tersedia, seperti kalah bersaing dengan sumber daya luar negeri, terbatasnya lahan pekerjaan atau angkatan kerja tidak dapat memenuhi persyaratan yang diminta oleh dunia kerja.
Untuk pengangguran tipe pertama (karena faktor fisik), satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan bantuan instan yang bersifat konsumtif untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Untuk tipe pengangguran yang kedua (karena faktor non fisik), bantuan konsumtif tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan bisa saja bantuan tersebut merusak mentalitas mereka menjadi mental pengemis yang ingin hidup nikmat tanpa harus bekerja keras. Dalam al-Quran banyak ayat yang menganjurkan kita untuk tidak melupakan urusan dunia, atau bahkan menyuruh kita untuk segera menuntaskan segala urusan kita serta memerintahkan agar seseorang senantiasa melakukan aktivitas yang bermanfaat, dan tidak membiarkan dirinya menganggur. Islam memang sangat menyayangkan waktu yang terbuang percuma. Tidak terhitung berapa banyak ayat-ayat al-Quran, Hadis, pernyataan Sahabat ataupun pernyataan para ulama dan cendekiawan yang ‘mengutuk’ pengangguran ataupun orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk melakukan hal yang tidak berguna dan tidak bermanfaat. Jadi solusi yang bisa diberikan adalah dengan merubah paradigma berpikir para mahasiswa untuk tidak hanya sebatas melamar pekerjaan. seharusnya para lulusan sarjana itu menciptakan lapangan pekerjaan, bukan malah juga berburu mencari pekerjaan. Akibatnya, jika seluruh mahasiswa lulusan negeri ini tidak ada yang mau menjadi entrepreneur, tapi juga memburu pekerjaan sebagaimana orang yang tidak berpendidikan, maka membeludaklah jumlah pengangguran disebabkan lapangan pekerjaan perkantoran yang semakin minim. Secara umum penduduk Indonesia memang punya rasa gengsi dan rasa malas yang tinggi. Mereka hanya ingin pekerjaan-pekerjaan yang mudah dan bergengsi -meski monoton- seperti kerja di perkantoran. Mereka tidak mau jadi entrepreneur dengan membuka usaha bisnis sendiri, bercocok tanam, berternak, ataupun berkebun. Karena mereka menganggap itu adalah pekerjaan rendahan, sulit atau bahkan bisa menurunkan martabat. Bukankah Rasulullah dulu adalah seorang pengembala, sebelum beliau bertranformasi menjadi seorang pebisnis yang handal? Disinilah Rasulullah memberikan teladan kepada kita, agar kita tidak berleha-leha dan agar kita bisa menangkap segala peluang bisnis yang ada ataupun dengan membuat lapangan pekerjaan sendiri. Sehingga mereka bisa menjadi makhluk terbaik karena bisa bermanfaat pada yang lain. Yang jelas jangan sampai seorang pemuda yang masih punya kekuatan hanya bersantai ria, tanpa melakukan sesuatu yang berguna.
Sedangkan untuk menangani faktor ketiga, hal yang sangat penting untuk dilakukan adalah dengan membina keterampilan dan menyediakan lapangan pekerjaan. Meskipun tahapan ini tidak mudah dan membutuhkan proses yang sangat panjang, namun ini merupakan satu-satunya langkah yang jitu untuk menyelesaikan problem pengangguran yang menjangkiti perekonomian Indonesia. Langkah seperti inilah  yang juga dianjurkan oleh Rasulullah dalam hal pendistribusian zakat. Syekh Zakariya al-Anshari –seorang cendikiawan muslim- dalam Asnâ al-Mathâlib menyatakan, “Jika orang yang berhak mendapatkan zakat adalah fakir miskin yang terbiasa berdagang, maka dia diberi modal yang cukup (untuk menghasilkan kebutuhan hidupnya sehari-hari)... Kalau dia itu bisa bekerja, tapi tidak memiliki alat (atau sarananya), maka dia diberi bantuan zakat untuk membeli alat tersebut... Jika dia tidak memiliki keahlian kerja dan berdagang, maka dia diberi zakat untuk kebutuhan dalam sisa hidupnya, yakni dengan membelikannya sebuah lahan yang hasilnya mencukupi, sehingga berikutnya dia tidak membutuhkan zakat lagi...”
Disamping itu pemerintah juga harus mengupayakan agar Pendidikan dijalankan dengan sebuah system yang humanis dalam artian harus menyentuh semua kalangan. Perguruan tinggi jangan sampai hanya berfokus kepada anak – anak yang mampu saja. Apalagi seandainya 20% dari APBN yang dianggarkan untuk dunia pendidikan digunakan tepat sasaran. System penerimaan beasiswa yang sekarang banyak tidak tepat sasaran. Sehingga perlu adanya perubahan dalam penyaluran dana beasiswa. System jemput bola akan lebih baik dilakukan dengan system jalur khusus bagi anak – anak kurang mampu tapi berprestasi dan cerdas. Mendatangi ke sekolah secara langsung karena kita tahu, guru dan sekolah adalah yang lebih tahu tentang murid atau siswa mereka yang perlu diberikan beasiswa. Diharapkan dengan hal tersebut akan menjadikan pendidikan merata dan tidak ada lagi penyelewengan anggaran beasiswa. Secara umum pendidikan adalah basis kemajuan dari seluruh bangsa. Jika kita melihat jepang yang pernah amburadul pasca perang dunia II, mereka langsung membenahi sistem pendidikan negaranya sehingga sekarang menjadi negara yang sangat maju. Pengentasan kemiskinan hanya dapat ditingkatkan apabila sumber daya manusia kita dididik dengan baik bukan hanya diberi bantuan uang untuk hidup. Ibaratnya, memberi ikan adalah cara instan untuk menutupi kebutuhannya di detik itu. Sedangkan, memberi jala dan mengajari cara memancing adalah cara bijak untuk menutupi kebutuhannya di sepanjang waktu.
Jadi, Walaupun Indonesia memiliki penduduk yang relatif banyak dengan pertumbuhan yang pesat, dan lapangan kerja perkantoran yang semakin sedikit, hal itu tidak akan menjadi alasan penyebab terpuruknya perekonomian Indonesia. Bahkan seandainya pemerintah peka dan mampu memaksimalkan potensi banyaknya jumlah penduduk menjadi sesuatu yang positif dengan  menjadikan mereka sebagai tenaga kerja yang profesional, maka hal itu akan menciptakan tingkat produktivitas di Indonesia yang semakin baik. Jika kita lihat China dengan jumlah penduduk yang cukup besar didunia dan bahkan menduduki peringkat pertama jumlah penduduk yang terbesar maka kita harus sedikit belajar dari mereka. Pemerintah mereka mampu menyebar jumlah penduduknya ke seluruh dunia. Dengan jumlah penduduk sebegitu banyak bukan berarti China gagal mensejahterakan rakyatnya karena pada tahun 2016 menurut International Monetary Fund (IMF) China akan mampu melampaui perekonomian Amerika Serikat. Bagaimana dengan Indonesia? Bukankah Indonesia kaya akan sumber daya alam yang melimpah, masih banyak lahan yang tersedia di Pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Irian dan lain-lain yang seandainya dikelola dengan baik oleh negara, maka bisa menciptakan jutaan lapangan pekerjaan. Namun realitanya di Indonesia produktifitas pertumbuhan penduduk malah merupakan sesuatu yang menyebabkan meningkatnya angka pengangguran. Sehingga semakin tahun, jumlah pengangguran semakin meningkat, bahkan mencapai angka 74,8 juta jiwa, Yang secara otomatis juga mengakibatkan meningkatnya jumlah kemiskinan.
Epilog
Perlu adanya usaha dari setiap aspek golongan, bukan malah saling menyalahkan untuk merubah perekonomian indonesia menjadi makmur dan semakin berkembang. Pemerintah berusaha memberikan pedidikan yang baik bagi rakyatnya, rakyat benar-benar memaksimalkan potensi yang dia miliki untuk bekerja, tanpa ada gengsi dan rasa malas. Meskipun itu dianggap pekerjaan yang “hina”. Yang kaya memberikan bantuan pada yang miskin, sedangkan yang miskin tidak kecanduan untuk selalu bergantung pada bantuan dari orang yang mampu. Sehingga jika semuanya bekerja sesuai dengan tugas masing-masing, maka kekayaan sumber daya alam yang ada di Indonesia benar-benar menjadi “tanah surga” bagi pemiliknya. Bukan malah hidup bagaikan “neraka” ketika masih di dunia, menderita dari lahir sampai mati.

Daftar Pustaka:
1.       Dairobi, Ahmad, Buletin Sidogiri, Edisi 85.
2.      Ahmad, Achyat, Buletin Sidogiri, Edisi 85.
3.       Tempo Interaktif, jakarta, 01 April 2013.
4.      Kompas, 25 Januari 2013.
5.       Nuramin, Agus. 2009. http://agusnuramin.wordpress.com/2011/05/10/jumlah-pengangguran-di-indonesia-943-juta-orang-dan-dampaknya-pengangguran/.

No comments:

TERSENYUMLAH maka Seluruh Dunia Akan TERSENYUM kepadamu. jangan MENANGIS, karena Kamu hanya akan MENANGIS sendirian