TUGAS MAKALAH
MK_SPI
Peran
Bani Buwaih Dalam
Khilafah
Abbasiyah
Nama
: NIZAR ZULMI
Nim
: 1317.297
Dosen
: DRS. KARANTIANO
Kelas
: M

STEI TAZKIA
Bogor, 2013
Prolog
Berbicara
tentang sejarah keemasan peradaban Islam maka kita tidak bisa lepas dari
masa-masa pemerintahan Daulah Umayyah atau lebih tepatnya di masa Umar bin
Abdul Aziz yang memerintah antara tahun 99-101 H. Setelah itu perkembangan
keilmuan semakin meningkat, sampai tahun 132. Setelah itu pemerintahan Islam mengalami
transisi kepemimpinan/Khilafah dari daulah Umayyah ke daulah Abbasiyah.
Di masa awal pemerintahan ini, yang dipimpin oleh keturunan Abbas, pertumbuhan
keilmuan tentang islam masih stabil, bahkan diantara khalifahnya yang terkenal
adalah Harun Al-Rasyid yang terkenal bijaksana.
Daulah Abbasiyah ? apa dan siapa?
Pada abad ketujuh
Masehi terjadi pemberontakan di seluruh negeri. Pemberontakan yang paling
dahsyat dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara pasukan
Abul Abbas (daulah Abbasiyah) melawan pasukan Marwan ibn Muhammad (daulah
Umayyah), Yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Abul Abbas. Dari sinilah
pemerintahan islam dikuasai oleh keturunan Abbasiyah.
Daulah Abbasiyah
merupakan kelanjutan dari kekuasaan Dinasti Bani
Umayyah. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa Dinasti
ini adalah keturunan Abbas bin Abdul Muththolib, paman nabi Muhammad SAW.
Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah as-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn
Abdillah ibn al-Abbas. Beliau dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H dan dilantik
menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awal 132 H. Kekuasaan Dinasti Bani
Abbasiyah berlangsung dari tahun 132-622 H (750-1258 M). Dalam kurun 5 abad
pemerintahan pada masa Daulah Abbasiyah, para sejarawan membagi masa
pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi 4 periode pemerintahan;
1. Daulah Abbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya Daulah Bani Abbasiyah tahun 132 H/750 M, sampai meninggalnya Khalifah al-Wâsiq pada tahun 232 H/847 M.
2. Daulah Abbasiyah II, yaitu mulai dari Khalifah al-Mutawakkil pada tahun 232 H/847 M, sampai berdirinya daulah Buwaihiyah di Baghdad pada tahun 334 H/946 M.
3. Daulah Abbasiyah III, semenjak berdirinya daulah Buwaihiyah tahun pada tahun 334 H/946 M sampai masuknya kaum Saljuk ke kota Baghdad pada tahun 467H /1055 M.
4. Daulah Abbasiyah IV, yaitu sejak masuknya orang-orang Saljuk ke Baghdad tahun 467 H/1055 M, sampai jatuhnya Baghdad ke tangan orang Tartar yang dipimpinan oleh Hulako tahun 575 H/1268 M.
1. Daulah Abbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya Daulah Bani Abbasiyah tahun 132 H/750 M, sampai meninggalnya Khalifah al-Wâsiq pada tahun 232 H/847 M.
2. Daulah Abbasiyah II, yaitu mulai dari Khalifah al-Mutawakkil pada tahun 232 H/847 M, sampai berdirinya daulah Buwaihiyah di Baghdad pada tahun 334 H/946 M.
3. Daulah Abbasiyah III, semenjak berdirinya daulah Buwaihiyah tahun pada tahun 334 H/946 M sampai masuknya kaum Saljuk ke kota Baghdad pada tahun 467H /1055 M.
4. Daulah Abbasiyah IV, yaitu sejak masuknya orang-orang Saljuk ke Baghdad tahun 467 H/1055 M, sampai jatuhnya Baghdad ke tangan orang Tartar yang dipimpinan oleh Hulako tahun 575 H/1268 M.
Pada periode ketiga di
bawah pimpinan Daulah Buwaih inilah banyak kekacauan dan kemerosotan umat
muslim mulai nampak ke permukaan, terlebih di bidang agama. Ini dikarenakan
Bani Buwaih adalah penganut Syiah.
Siapa Buwaih?
Buwaih Berawal
dari tiga orang putera Abu Syuja` Buwaih, seorang pencari ikan yang tinggal di
daerah Dailam. Mereka adalah Ali, Hasan dan Ahmad. Hidup miskin dan punya 3
anak yang baru ditinggal oleh Istrinya, membuat dia sangat sedih. Suatu ketika
dia bercerita pada ahli perbintangan, bahwa dia bermimpi melihat api yang besar
keluar dari kemaluannya. Api itu menyebar sampai hampir mencapai langit.
Kemudian api itu terpecah belah menjadi tiga, dan tersebar ke seluruh negeri. Api
itupun menerangi negeri-negeri tersebut. Maka ahli nujum itupun
memberikan penafsiran bahwa dia (Abu Syuja`) akan punya 3 orang anak yang akan
menguasai berbagai negeri. Dibilang seperti itu, abu syuja` merasa terejek.
Tapi sang ahli nujum mengatakan bahwa itu benar-benar akan terjadi.
Kronologi kedatangan
Sebagai
orang yang hanya bekerja mencari ikan, membuat Abu Syuja` dan 3 orang anaknya
hidup dalam kemiskinan. Untuk keluar dari tekanan kemiskinan, tiga bersaudara
ini memasuki dinas militer yang ketika itu dipandang banyak mendatangkan
rezeki. Pada mulanya mereka bergabung dengan pasukan salah seorang panglima
perang Khilafah Abbasiyah dari Dailam yang bernama Mardawij Ibn Zayyar
al-Dailamy. Karena prestasi mereka, Mardawij mengangkat Ahmad menjadi gubernur al-Karaj.
Dari al-Karaj itulah ekspansi kekuasaan Bani Buwaih dimulai. Pertama-tama Ali
berhasil menaklukkan daerah-daerah di Persia dan menjadikan Syiraz sebagai
pusat pemerintahan. Dan ketika Mardawij meninggal, pasukan Ahmad (Bani Buwaih)
yang bermarkas di Syiraz itu berhasil menaklukkan beberapa daerah lain disekitarnya.
Setelah masuk pada pengurus pemerintahan, Ahmad semakin mendapat kepercayaan
dari khalifah. Bahkan Khalifah al-Muthi` lillah memberinya gelar Mu`iz ad-
Daulah (yang memuliakan Negara). Ahmad memerintah Baghdad selama lebih dari
24 tahun. sementara kedua saudaranya menguasai bagian kerajaan sebelah timur
Baghdad. Sebenarnya Bani Buwaih adalah
keturunan kaum syi`ah dan bukan keturunan Bani Abbas secara langsung.
Namun mereka bisa masuk ke pemerintahan karena ketika itu Baghdad dilanda kekisruhan politik akibat perebutan
jabatan Amir al-Umara` antara wazir dan pemimpin miiter. Lalu para pemimpin
militer meminta bantuan kepada Ahmad Ibnu Buwaih yang berkedudukan di Akhwaz untuk
mengambil alih pemerintahan. Permintaan itupun dikabulkan, sehingga Ahmad dan
pasukannya tiba di Baghdad pada tanggal 11Jumâdal ûla (334 H/945M). Ali Ibnu
Buwaih diberikan gelar Imad al-Daulah, dan Hasan Ibnu Buwaih dianugerahi
gelar Rukn al-Daulah.
Sejak
itu, para khalifah -sebagaimana terhadap para pemimpin militer Turki sebelumnya-
tunduk kepada Bani Buwaih sebagai pemegang pimpinan militer. Pada masa
pemerintahan Bani Buwaih ini, kepemimpinan para khalifah Abbasiyah benar-benar hanya
formalitas saja. Pelaksanaan pemerintahan sepenuhnya berada di tangan amir-amir
Bani Buwaih. Hal ini menyebabkan Keadaan khalifah lebih buruk daripada masa
sebelumnya, terutama karena Bani Buwaih adalah penganut aliran Syiah, sementara
Bani Abbas adalah Sunni. Selama masa kekuasaan Bani Buwaih sering terjadi
kerusuhan antara kelompok Ahlussunnah dan Syiah, pemberontakan tentara, dan
sebagainya. Meski telah menguasai pemerintahan Baghdad, Bani Buwaih tetap
meletakkan kendali politik yang sebenarnya di Syiraz, tempat Ali ibnu Buwaih (saudara
tertua) bertahta.
Adapun
khalifah khalifah Abbasiyah pada periode ini adalah sebagai berikut;
1). Al-Muthi` lillah (المطيع
لله) 334-363H/946-974 M
Biografi
Nama aslinya Abul-Fadhl
bin Al-Muqtadir bin Al-Mu`tadhid. Dia lahir pada tahun 301 H, dan dilantik
sebagai khalifah saat Al-Mustakfi dicopot dari kursi kekhalifahan pada bulan Jumâdal
âkhîr tahun 334 H. Beliau merupakan khalifah Daulah Abbasiyah ke-23 dengan julukan
Al-Muthî` Lillâh. Beliau diangkat menjadi khalifah pada usia 34 tahun dan
sempat menduduki jabatannya selama 29 tahun 5 bulan. Walaupun menjadi khalifah,
tapi roda pemerintahan tetap dipegang oleh Ahmad bin Buwaih yang berkuasa
selama 22 tahun.
Sistem Politik
Khalifah tidak lagi
berhak mengambil jatah sesukanya dari Baitul Mal. Baginya telah ditetapkan
anggaran tertentu, baik bagi dirinya maupun tamu dan pejabat istana. Pada tahun
338 H, Muiz ad-Daulah meminta khalifah Al-Muthi` untuk melibatkan saudara Ahmad
bin Buwaih, yaitu yaitu Ali bin Buwaih yang bergelar Imad Ad-Daulah, dalam
masalah pemerintahan. Imad Ad-Daulah ingin menjadi pengganti kedudukan Al-Muthi`
sebagai khalifah. Al-Muthi` memenuhi apa yang ia minta, namun Imad Ad-Daulah
keburu meninggal pada tahun itu juga.
Pada tahun 356 H, amir
Muiz Ad-Daulah meninggal dunia. Anaknya yang bernama Bakhtiar menggantikan
posisi ayahnya yang oleh khalifah al-Muthi` diberi gelar Izz ad-Daulah. Pada
363 H, Al-Muthi` diserang penyakit lumpuh sehingga ia tak mampu bicara. Maka
pengawal Izz ad-Daulah meminta al-Muthi` untuk mengundurkan diri dari
kekhalifahan dan segera menyerahkannya kepada anaknya yang bernama Ath-Tha`i
Lillah. Al-Muthi` menuruti saran tersebut. Pengunduran resminya dia nyatakan
pada hari Rabu 13 Dzulqa`dah 363 H. Dengan demikian masa pemerintahan Al-Muthi`
adalah 29 tahun lebih lima bulan. Pengunduran dirinya dikokohkan oleh Qadhi
Ibni Syaiban. Setelah pengunduran dirinya, Al-Muthi` mendapat julukan Syekh al-Fadhl
(sesepuh yang mulia). Pada bulan Muharram 364 H, al-Muthi` melakukan perjalanan
bersama anaknya ke Wasith. Dia meninggal pada tahun tersebut di usianya yang ke
63 tahun.
2). Atthôi` lillah (الطائع
لله ) 363-381 H/ 974-991
Nama lengkap beliau
adalah Abul Fadhal Abdul Karim bin Muthi` al-Fadhl bin Al-Muqtadir. Beliau
mendapat gelar Atthôi` lillah dari ayahnya. Atthôi` lillah diangkat sebagai khalifah untuk menggantikan ayahnya yang mengundurkan
diri pada tahun 363 H. Sedangkan amirul
umara pada masa ini yang memegang bukan lagi Ahmad bin Buwaih, tapi telah digantikan
oleh anaknya, yang bernama Bakhtiar yang bergelar Izz ad-Daulah. Beliau
lahir pada tahun 317 H dan Punya bentuk fisik yang ideal, kuat, berkulit putih
dan berhidung besar.
Pada hari Sabtu 08
Sya`ban 381 H, Baha` adh-Dhaulah memaksa Atthôi`
lillah untuk meletakkan jabatannya. Sekaligus menyerahkan jabatan khalifah pada
Abu al-Abbas Ahmad ibnu Ishaq ibnu al-Muqtadir. Beliau meninggal pada usia 53
tahun di malam hari raya Idul Fitri tahun 393 H, sedangkan masa
pemerintahannya adalah 17 tahun 8 bulan dan 9 hari.
3). Al-Qodir Billah (القادر
بالله ) 381-422
Biografi
Al-Qadir Billah
dilahirkan pada tahun 336 H. Nama asli beliau adalah Abu Abbas Ahmad bin Ishaq
bin Al-Muqtadir. Beliau dilantik sebagai khalifah Daulah Abbasiyah yang ke-25
(991-1031 M) setelah pengunduran diri dari khalifah sebelumnya, Atthôi` lillah.
Saat pelantikan, ia tidak berada di Baghdad. Dia baru datang pada tanggal 10
Ramadhan tahun 381 H, yaitu keesokan harinya setelah pelantikan.
Pelantikan Khalifah Al-Qadir disambut dengan suka cita oleh seluruh penduduk negeri. Sebab sebelum dilantik sebagai khalifah, khalifah al-Qadir dikenal sebagai orang yang berbudi mulia, dan banyak sifat-sifat terpuji yang melekat pada dirinya, antara lain; memiliki komitmen keagamaan yang mantap, memiliki wibawa yang tinggi, selalu melakukan salat tahajjud, banyak melakukan tindakan-tindakan terpuji, dan banyak bersedekah.
Sistem politik
Pelantikan Khalifah Al-Qadir disambut dengan suka cita oleh seluruh penduduk negeri. Sebab sebelum dilantik sebagai khalifah, khalifah al-Qadir dikenal sebagai orang yang berbudi mulia, dan banyak sifat-sifat terpuji yang melekat pada dirinya, antara lain; memiliki komitmen keagamaan yang mantap, memiliki wibawa yang tinggi, selalu melakukan salat tahajjud, banyak melakukan tindakan-tindakan terpuji, dan banyak bersedekah.
Sistem politik
Pada bulan
Syawwal, terjadilah kesepakatan antara al-Qadir dengan Baha` ad-Daulah. Mereka
saling bersumpah untuk menepati kesepakatan. Khalifah al-Qadir memberikan tugas
khusus kepadanya. Lalu pada tahun 394 H, Baha` Ad-Daulah menugaskan Asy-Syarif
Abu Ahmad Al-Husain bin Musa Al-Musawi untuk menjabat di pengadilan dalam
masalah-masalah haji, pidana, dan masalah-masalah perdata. Namun Asy-Syarif
tidak bisa melaksanakan tugas yang diberikan oleh Baha` ad-Daulah karena tidak
mendapat izin dari khalifah al-Qadir. Pada tahun 395 H, permusuhan antara
orang-orang Syi`ah dan Sunni mulai nampak ke permukaan. Mengetahui kerusuhan
yang lambat laun akan terjadi dan bisa membahayakan keamanan negara, Khalifah
Al-Qadir bertindak dengan cepat. Ia memerintahkan para tentaranya untuk
mengamankan golongan Ahlus Sunnah dari ancaman kaum Syi`ah Rafidhah yang ingin
membunuh para ulama Ahlus Sunnah.
Amirul umara` Baha` Ad-Daulah meninggal pada tahun 403 H dalam usia 42 tahun
setelah berkuasa selama 24 tahun 9 bulan. Lalu iapun digantikan oleh putranya,
yaitu Abu Syuja` dengan gelar sulthan
Ad-Daulah yang berkuasa selama delapan tahun. Pada masa inilah khalifah al-Qadir
wafat. Ia meninggal dunia pada hari Senin 11 Dzulhijjah 423 H. Sedangkan Masa
pemerintahannya berlangsung selama 40 tahun tiga bulan.
4). Al-Qoim biamrillah (القائم
بأمر الله ) 422-467 H
Biografi
Namanya adalah Abu Ja`far
Abdullah bin al-Qodir. Beliau dilahirkan pada
bulan Dzulqa`dah tahun 391 H. Ibunya seorang mantan budak dari Armenia bernama
Badar ad-Duja. Al-Qaim diangkat sebagai khalifah Daulah Abbasiyah ke-26 pada bulan
Dzulhijjah 423 H yang berkuasa antara tahun 422- 467 H (1031-1075 M). Gelar Al-Qaim
Biamrillah merupakan gelar yang diberikan oleh ayahnya. Ibnu Atsir seorang
sejarawan terkemuka berkata tentang Al-Qaim, "Dia adalah lelaki yang
tampan, wajahnya rupawan, kulitnya putih kemerahan dan tubuhnya semampai. Dia
juga seorang yang wara`, taat beragama, zuhud, banyak bersedekah dan memiliki
keyakinan dan kesabaran yang tinggi. Dia juga memiliki ilmu yang sangat luas
dan mahir dalam bidang tulis-menulis."
Roda Pemerinthan
Roda Pemerinthan
Pada tahun 425
H/1034 M, terjadi malapetaka dahsyat di wilayah Timur Tengah dan sekitarnya. Musibah
itu diawali dari gempa besar yang berlangsung selama 40 hari. Disusul kemudian kemarau
panjang dan menyebarnya penyakit menular. Ketika musibah itu berakhir, Khalifah
Al-Qadir dan amirul umara Jalal Ad-Daulah bekerja sama melakukan
berbagai perbaikan. Perbuatan Jalal ad-Daulah itu membuat Semua pihak menaruh
hormat kepada Jalal ad-Daulah. Kesempatan itu digunakan oleh Jalal ad-Daulah
untuk merombak gelar kehormatannya. Ia meresmikan dirinya dengan panggilan Malik
al-Mulk (Raja Diraja). Namun gelar itu hanya bertahan selama empat tahun. Pada
433 H, ia jatuh sakit dan meninggal dunia. Jabatannya kemudian diambil alih oleh
Abu Kaliger putra Sulthan ad-Daulah yang mendapat gelar Malk Muhyiddin.
Berakhirnya daulah Buwaih
Pada bulan
Dzulhijjah tahun 450 H, seorang berkebangsaan Turki bernama Arsalan yang lebih
dikenal dengan sebutan al-Basasiri, menangkap Khalifah Al-Qaim. Dulunya arsalan
adalah budak Turki yang dibeli oleh Baha` ad-Daulah. Terjadilah pertempuran sengit selama satu bulan di
Baghdad antara pasukan khalifah dan pasukan al-Basasiri yang membawa
panji-panji pemerintahan Mesir. Akhirnya al-Basasiri bisa menangkap dan membawa
khalifah al-Qaim Biamrillah ke kota Anah dan memenjarakannya di tempat itu.
Namun, Diam-diam Khalifah Al-Qaim berhasil melakukan surat-menyurat dengan Amir
Toghrul Bek bin Mikail salah satu panglima dari Bani Saljuk. Dengan pasukan
besar, Toghrul Bek segera maju merebut wilayah Khurasan, tempat dipenjarakannya
khalifah al-Qoim. Terakhir, ia berhasil masuk ke Baghdad dan berhasil menangkap
Malk Abdur Rahim, putra Malk Muhyiddin, yang menentang Al-Qadir. Toghrul Bek kemudian
memasukkan Malk Abdur Rahim ke dalam penjara hingga meninggal dunia. Dengan
kematian Malk Abdurrahim, maka berakhirlah riwayat kekuasaan keluarga Buwaih
pada dinasti Abbasiyah. Setelah al-Qoim kembali menduduki khilafah, panglima Toghrul
Bek mempersiapkan tentara untuk menggempur Al-Basasiri dan berhasil
membunuhnya.
Pada malam
Kamis, 13 Sya`ban 467 H, Khalifah Al-Qaim Biamrillah wafat. Sebelum wafat,
beliau meminta cucunya Abdullah bin Muhammad untuk menjadi putra mahkota, dan
memberikan beberapa nasihat kepadanya. Ia pun menghembuskan nafas terakhir.
Sebab keruntuhan Bani Buwaih
Roda pasti berputar.
Mungkin pepatah itu cocok untuk menggambarkan arus kehidupan Bani Buwaih.
Setelah lama memegang peran yang besar dalam roda pemerintahan daulah Abbasiyah,
akhirnya Amir terakhir dari Bani Buwaih berhasil ditaklukkan dan dibunuh
oleh Bani Saljuk. Sebuah klan dari bangsa turki. Dalam
proses jatuhnya kekuasaan Bani Buwaih ke tangan Saljuk bermula dari perebutan
kekuasaan di dalam negeri. Ketika al-Malik Abdur Rahim memegang jabatan Amir al-Umara,
kekuasaan itu dirampas oleh panglimanya sendiri, Arselan al-Basasiri. Dengan
kekuasaan yang ada di tangannya, al-Basasiri berbuat sewenang-wenang terhadapal
al-Malik Abdur Rahim dan Khalifah al-Qaim dari Bani Abbas; bahkan dia
mengundang khalifah Fathimiyyah (al-Mustanshir) untuk menguasai Baghdad. Hal
ini mendorong khalifah meminta bantuan kepada panglima Tughril Bek dari dinasti
Saljuk yang berpangkalan di negeri Jabal. Akhirnya pada tahun 447 H pimpinan Saljuk
itu memasuki Baghdad. Al-Malik Abdur Rahim, Amir al-Umara Bani Buwaih
yang terakhir, ditangkap dan dipenjarakan. Dengan demikian berakhirlah
kekuasaan Bani Buwaih dan bermulalah kekuasaan Dinasti Saljuk. Pergantian
kekuasaan ini juga menandakan awal periode keempat khilafah Abbasiyah. Banyak faktor yang mempengaruhi takluknya bani buwaih pada bani saljuk,
diantaranya; adalah disebabkan Faktor
internal, yaitu perebutan kekuasaan diantara anak-anak mereka. Masing-masing merasa paling berhak atas
kekuasaan pusat. Misalnya, pertikaian antara `Izz ad-Daulah Bakhtiar, putera Mu`iz
ad-Daulah dan `Adhad Daulah, putera Imad ad-Daulah, dalam perebutan jabatan amirul
umara`. Perebutan kekuasaan di kalangan keturunan Bani Buwaih ini merupakan
salah satu faktor internal yang membawa kemunduran dan kehancuran pemerintahan
mereka. Faktor internal lainnya adalah pertentangan dalam tubuh militer, antara
golongan yang berasal dari Dailam dengan keturunan Turki. Ketika amirul umara`
dijabat oleh Mu`iz ad-Daulah persoalan itu dapat diatasi, tetapi manakala
jabatan itu diduduki oleh orang-orang yang lemah, masalah tersebut muncul ke
permukaan sehingga mengganggu stabilitas dan menjatuhkan wibawa pemerintah.
Sejalan dengan makin melemahnya kekuatan politik Bani Buwaih, makin
banyak pula gangguan dari luar yang membawa kepada kemunduran dan kehancuran
dinasti ini. Faktor-faktor eksternal tersebut di antaranya adalah semakin
gencarnya serangan-serangan Bizantium ke dunia Islam, dan semakin banyaknya
dinasti-dinasti kecil yang membebaskan diri dari kekuasaan pusat di Baghdad.
Peradaaban
Meski sistem pemerintahan daulah Abbadiyah di bawah kekuasaan Bani
Buwai kacau, namun banyak juga perkembangan keislaman yang ter jadi pada masa
ini, antara lain adalah;
1). Di bidang ilmu pengetahuan.
Para penguasa Bani Buwaih mencurahkan perhatian secara langsung dan
sungguh-sungguh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusastraan. Pada
masa Bani Buwaih ini banyak bermunculan ilmuwan muslim besar, di antaranya:
Al-Farabi (w.950 M), Ibnu Sina/Avicenna (980-1037 M), Al-Afghani, Abd Al-Rahman Al-Shufi (w.986M), Ibn Maskawaih
(w.1030M) Abu Al-`Ala Al-Ma`arri (973-1057M) dan Al Qusyairy (w. 1073 M).
2). Di bidang Arsitektur dan Ekonomi
Jasa Bani Buwaih juga terlihat dalam pembangunan beberapa kanal,
masjid, rumah sakit, dan sejumlah bangunan umum lainnya. Kemajuan tersebut
diimbangi dengan laju perkembangan ekonomi di bidang pertanian, perdagangan,
dan industri.
Adapun bangunan berhasil dibangun oleh daulah Bani Buwaih antara lain;
a. Kuttab, yaitu tempat belajar dalam tingkatan pendidikan rendah dan menengah.
b. Majlis Muhadharah, yaitu tempat pertemuan para ulama, sarjana, ahli pikir dan
pujangga untuk membahas masalah-masalah ilmiah.
a. Kuttab, yaitu tempat belajar dalam tingkatan pendidikan rendah dan menengah.
b. Majlis Muhadharah, yaitu tempat pertemuan para ulama, sarjana, ahli pikir dan
pujangga untuk membahas masalah-masalah ilmiah.
Epilog
Pada daulah Abbasiah
periode yang ketiga ini memang masih menggunakan sistem khilafah yang sah. tapi
esensinya, peran khilafah hanya sebatas formalitas dan simbol semata. Sedangkan
yang memegang keputusan tetaplah seorang panglima militer. Seyognya seorang
yang jadi pemimpin adalah mereka yang benar-benar berhak jadi pemimpin serta
memenuhi syarat-syaratnya. Dan bukan pula dikontrol oleh orang yang ada di
bawahnya. Maka benarlah kata pepatah arab "اذا وسد
الامر الى غير اهله فانتظرالساعة" (jika suatu urusan diserahkan pada bukan
ahlinya, maka tunggulah kehancurannya).
Referensi
1. Dr. Abdul Aziz
Ad-Daury, Akhbar Ad-Daulah Abbasiyah, Beirut, Lebanon.
2. Ibnul Mutahhir, Albada`
wat Tarikh, Maktabah Syamilah.
3. Ismail bin Katsir, Albidayah
wan Nihayah, Dar Ihya` at-Turats, 1408.
4. Tarikhul Baghdad,
Maktabah Syamilah.
5. Badri Yatim, DR. MA,
Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, PT, RajaGrafindo Persada, Cet. XV,2003.
No comments:
Post a Comment